Manajemen Agribisnis Peternakan Sapi Perah di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang
Subsektor peternakan memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada tahun 2011, pertumbuhan PDB sektor pertanian (di luar perikanan dan kehutanan) mencapai 3,07 persen, meningkat dari 2,86 persen tahun 2010. Kontribusi subsektor peternakan mencapai 4,23 persen, lebih tinggi dibandingkan subsektor tanaman bahan makanan (1,93 persen) dan hanya kalah dari subsektor perkebunan (6,06 persen).
Kontribusi PDB pertanian terhadap PDB nasional juga meningkat dari 11,49 persen (2010) menjadi 11,88 persen (2011). Peran peternakan sangat penting dalam penyediaan protein hewani, peningkatan pendapatan masyarakat, serta penyediaan lapangan kerja. Khusus untuk sapi perah, Provinsi Jawa Timur adalah sentra terbesar dengan kontribusi 56 persen dari produksi susu nasional pada tahun 2012. Usaha sapi perah rakyat menyumbang sekitar 49,8 persen dari total produksi tersebut. Dari tahun 2005–2009, produksi susu di Jawa Timur mencapai 646,6 juta liter, dengan kontribusi terbesar dari 10 kabupaten utama.
Kabupaten Malang menempati posisi teratas, dengan produksi susu meningkat dari 82,36 juta liter (2005) menjadi 145,70 juta liter (2009). Rata-rata kenaikan mencapai 27,7 persen per tahun, menjadikannya sebagai kabupaten dengan peningkatan produksi tertinggi.
Di dalam Kabupaten Malang, Kecamatan Pujon adalah salah satu pusat sapi perah. Data menunjukkan bahwa populasi sapi perah Pujon mencapai 26.526 ekor pada 2010 dengan produksi susu 42,49 juta liter. Namun, pada 2011 populasi menurun menjadi 25.325 ekor dengan produksi susu turun menjadi 33,35 juta liter. Penurunan ini dipengaruhi oleh tingginya jumlah sapi yang sudah tua dan mendekati umur afkir.
- Manajemen Agribisnis Hulu
Bibit sapi: Peternak memelihara sapi hasil persilangan Frisien Holstein (FH) dengan sapi lokal. Sapi mulai menghasilkan susu pada umur 2,5 tahun, dengan masa afkir 9–10 tahun.
Pakan ternak: Hijauan, rumput gajah dan rumput alam.
Konsentrat (saeprofit): campuran dedak, bungkil kedelai, katul, tetes, dan vitamin.
Rasio pakan: 2 liter susu per 1 kg konsentrat. Contoh: sapi yang menghasilkan 8 liter susu/hari diberi 4 kg konsentrat.
Rata-rata pemberian pakan hijauan: 26,63 kg/hari/sapi laktasi, konsentrat 6,13 kg/hari/sapi.
Kesehatan ternak: Penyakit yang paling sering muncul adalah mastitis, yang dapat menurunkan produksi susu hingga 30 persen. Gejala berupa pembengkakan ambing, susu bergumpal atau bercampur darah, serta penurunan nafsu makan.
Kandang dan peralatan: Peternak menggunakan peralatan sederhana seperti milk can (10–15 liter), ember, sabit, cangkul, gerobak dorong, dan saringan susu. Kandang semi permanen memiliki dinding 1–1,5 meter, atap genteng tanah liat, ventilasi terbatas, dan sistem pembuangan limbah yang masih buruk. - Manajemen Agribisnis On-Farm
Produktivitas susu: Rata-rata produksi susu per ekor adalah 12,26 liter/hari, lebih rendah dari rata-rata nasional 15,5 liter/hari.
Produksi tertinggi tercatat 4.870 liter/ekor dalam masa laktasi 310 hari, sementara produksi terendah hanya 938 liter/ekor dalam 214 hari laktasi.
Inseminasi buatan: Sapi di Pujon biasanya berhasil bunting setelah 1–4 bulan IB. Rata-rata keberhasilan tercapai pada bulan ke-2,2.
Jadwal kegiatan peternak: Pagi (04.00–07.00): pembersihan kandang, pemerahan, penyetoran susu, pemberian pakan konsentrat.
Siang (08.00–12.00): berladang/istirahat.
Sore (13.00–17.00): mencari rumput, memberi pakan hijauan, pemerahan kedua, penyetoran susu sore hari.
Tenaga kerja: Sebagian besar berasal dari keluarga peternak. Rata-rata waktu kerja per hari adalah 7 jam.
Teknik pemerahan: Dilakukan manual dengan tangan, dua kali sehari. Pemerahan tidak menggunakan lap hangat, sehingga meningkatkan risiko mastitis. Waktu pemerahan per ekor sekitar 30 menit.
Pengelolaan limbah: Sebagian besar kotoran sapi belum dimanfaatkan. Namun, sejak 2012 koperasi bekerja sama dengan PT Nestlé menyediakan fasilitas biogas dari kotoran sapi. - Manajemen Agribisnis Hilir
Pengumpulan susu: Disetorkan ke Tempat Pengumpulan Susu (TPS) dua kali sehari (05.00–06.00 dan 17.00–18.00). Di wilayah kerja Koperasi SAE Pujon terdapat 21 TPS.
Pengolahan dan pemasaran: Susu ditimbang, diperiksa kualitas, lalu didinginkan selama 45 menit dalam cooling unit sebelum diangkut ke pusat koperasi. Selanjutnya dijual ke PT Nestlé Indonesia.
Kualitas susu: Standar kadar lemak minimal 2,7 persen, jumlah bakteri maksimal 1 juta koloni. Namun, susu dari Desa Pandesari hanya mencapai 2,6 persen lemak dengan bakteri lebih dari 1 juta koloni, sehingga kualitas rendah.
Harga susu Susu normal: Rp3.150/liter dan Susu afkir: Rp1.000/liter (digunakan untuk pakan pedet). Produk olahan: Sebagian kecil susu diolah menjadi yogurt dan susu pasteurisasi. Harga produk olahan berkisar antara Rp5.000–Rp20.000/botol. Permasalahan dan Tantangan
Manajemen pemeliharaan lemah → kebersihan kandang buruk, meningkatkan risiko mastitis.
Produktivitas rendah → hanya 12,26 liter/hari, lebih rendah dari standar nasional. Teknik pemerahan tradisional → tanpa prosedur higienis modern. Pengelolaan limbah minim → sebagian besar kotoran tidak dimanfaatkan. Kualitas susu di bawah standar → kadar lemak rendah (2,6 persen), jumlah bakteri tinggi.
Kesimpulan
Kajian menunjukkan bahwa manajemen agribisnis sapi perah di Pujon masih menghadapi banyak kelemahan, khususnya pada aspek pemeliharaan, kesehatan sapi, dan teknik pemerahan. Rata-rata produksi susu (12,26 liter/hari) masih rendah, dan kualitas susu belum memenuhi standar industri. Koperasi SAE Pujon berperan penting dalam distribusi susu, namun peningkatan manajemen teknis dan penerapan teknologi sangat dibutuhkan. Dengan perbaikan kandang, sanitasi, teknik pemerahan higienis, pemanfaatan limbah untuk energi dan pupuk, serta penguatan kapasitas peternak, Kecamatan Pujon berpotensi menjadi sentra susu nasional yang lebih kompetitif.